Tampilkan postingan dengan label Dalil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dalil. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Oktober 2016

UU Maroko Tutup Peluang Pemerkosa Lolos Hukuman Melalui Pernikahan

Jakarta, Pondok Pesantren Pabuaran. Parlemen Maroko dengan suara bulat mengubah undang-undang yang memungkinkan pemerkosa perempuan di bawah umur bisa menghindari tuntutan pidana dengan cara menikahi korban-korban mereka.

Langkah ini menyusul lobi intensif oleh para aktivis yang menuntut perlindungan yang lebih baik untuk perempuan muda korban perkosaan ini.

Perubahan tersebut telah disambut baik oleh kelompok hak asasi.

UU Maroko Tutup Peluang Pemerkosa Lolos Hukuman Melalui Pernikahan (Sumber Gambar : Nu Online)
UU Maroko Tutup Peluang Pemerkosa Lolos Hukuman Melalui Pernikahan (Sumber Gambar : Nu Online)


UU Maroko Tutup Peluang Pemerkosa Lolos Hukuman Melalui Pernikahan

Setelah disahkan tahun lalu, undang-undang ini lantas menghasilkan kritik publik belum pernah terjadi sebelumnya.

Pondok Pesantren Pabuaran

Masalah kemudian muncul ketika tahun 2012 ketika Amina Filali yang berusia 16 tahun bunuh diri setelah dipaksa untuk menikah pemerkosanya.

Pondok Pesantren Pabuaran

Filali menuduh Moustapha Fellak, yang pada saat itu berusia 25 tahun atas kekerasan fisik setelah mereka menikah. Tuduhan ini dibantah Fellak.

Setelah tujuh bulan menikah, Filali menelan racun tikus.

Kontroversi

Kasus ini mengejutkan banyak orang di Maroko dan diliput oleh media secara luas dan memicu protes di ibukota Rabat dan kota-kota lain.

Pasal 475 yang kontroversial tersebut mengancam hukuman penjara satu sampai lima tahun bagi siapa saja yang "menculik atau menipu" anak di bawah umur "tanpa kekerasan, ancaman atau penipuan, atau mencoba untuk melakukannya."

Tapi, klausa kedua dari artikel tersebut menyebutkan mengenai keadaan apabila korban menikahi pelaku, "dia tidak bisa lagi dituntut, kecuali oleh orang-orang diberdayakan untuk menuntut pembatalan pernikahan dan hanya setelah pembatalan diumumkan."

Di bagian pedesaan konservatif Maroko, seorang gadis yang belum menikah atau wanita yang telah kehilangan keperawanannya -bahkan melalui pemerkosaan- dianggap telah mempermalukan keluarganya dan tidak lagi cocok untuk pernikahan.

Beberapa keluarga percaya bahwa menikahi pemerkosa bisa menyelesaikan masalah ini. (mukafi niam)

ilustrasi: reuters

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/49645/uu-maroko-tutup-peluang-pemerkosa-lolos-hukuman-melalui-pernikahan

Selasa, 14 April 2015

Perpisahan, Santri Futuhiyah Pentaskan Teater

Demak, Pondok Pesantren Pabuaran. Lihatlah, lihatlah tukang rosok itu. Dia tetap berusaha untuk makan meski keadaan sudah sangat menghawatirkan. Hanya tukang rosok itu yang tidak mengeluh dengan keadaan desa ini.

Ini bukan masalah mengeluh ataupun sabar menghadapi ujian, Pak Bob. Masalah ini menyangkut warga saya. Saya bertanggung jawab dengan keadaan ini, Pak Bob.

Perpisahan, Santri Futuhiyah Pentaskan Teater (Sumber Gambar : Nu Online)
Perpisahan, Santri Futuhiyah Pentaskan Teater (Sumber Gambar : Nu Online)


Perpisahan, Santri Futuhiyah Pentaskan Teater

Itulah sepenggal adegan dialog dari lakon "Hujan di Ujung Senja" yang akan dibawakan kelompok terater Fatah dari Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak. Lakon "Hujan Di Ujung Senja" akan dipentaskan dalam rangka Haflah Akhiris Sanah, Khotmil Kutub, dan Muwaadaah atau upacara perpisahan Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak, Jawa Tengah, Rabu (13/5) malam, di halaman pesantren setempat.

Pondok Pesantren Pabuaran

Lakon Hujan Di Ujung Senja karya dari Miftahul Khoir memuat kritik terhadap menurunnya moral anak bangsa. Karya ini berawal dari puisi, yang kemudian diubah menjadi naskah drama.

Sebuah karya yang berawal dari puisi ketika saya galau di suatu senja melihat menurunnya moral anak bangsa dan akhirnya menjadi naskah drama Hujan di Ujung Senja, kata Khoir.

Pondok Pesantren Pabuaran

Sang sutradara, Sholihul Hadi, juga akan menambahkan beberapa adegan yang menggelitik dan lelucon pada seni pertunjukkan yang semua para pemainnya adalah santri ini.

Ya, walaupun waktu latihan sangat singkat sekali, hanya sebulan, kami yakin akan memberikan pengalaman baru bagi santri dalam pementasan terater nanti. Ini juga dalam rangka melestarikan pagelaran seni di lingkungan pesantren, jelas Bang Khul, panggilan akrabnya.

Lakon ini nanti akan dipentaskan oleh 15 santri. Berbagai karakter dimasukkan dalam cerita tersebut.

Banyak hal saya peroleh saat latihan seperti kedisiplinan, konsentrasi, tanggungjawab, dan lain-lain, kata Adib Hidayatulloh, mengungkapkan kegembiraanya atas pengalaman pertamanya ini. (Ben Zabidy/Mahbib)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59459/perpisahan-santri-futuhiyah-pentaskan-teater

Pondok Pesantren Pabuaran

Sabtu, 29 November 2014

Kanjeng Pangeran Aryo Abdurrahman Wahid

Solo, Pondok Pesantren Pabuaran. Setahun setelah dilengserkan dari kursi kepresidenan, tepatnya pada 9 Oktober 2002, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendapatkan undangan dari Keraton Kasunanan Surakarta, bersamaan dengan peringatan naiknya tahta Paku Buwono (PB) XII yang ke-57.

Tidak hanya itu, dalam kesempatan tersebut Gus Dur mendapatkan gelar kehormatan Kanjeng Pangeran Aryo (KPA), sebuah gelar gelar tertinggi yang pernah diberikan keraton kepada orang yang bukan kerabat asli istana penerus dinasti Mataram tersebut.

Kanjeng Pangeran Aryo Abdurrahman Wahid (Sumber Gambar : Nu Online)
Kanjeng Pangeran Aryo Abdurrahman Wahid (Sumber Gambar : Nu Online)


Kanjeng Pangeran Aryo Abdurrahman Wahid

Saat itu tidak ada prosesi istimewa, penganugerahan gelar bersama yang lain, hanya saja gelar yang disematkan kepada Gus Dur ini berbeda, terang Sekretaris PW GP Ansor Jawa Tengah, Sholahudin Aly, kepada Pondok Pesantren Pabuaran beberapa waktu lalu.

Gus Dur sendiri saat ditanya mengenai pemberian gelar ini mengaku tidak mengetahui alasan pasti pemberian gelar KPA ini kepadanya. Namun Gus Dur mengaku sebelumnya tidak pernah berharap untuk mendapat gelar ini.

Pondok Pesantren Pabuaran

Pondok Pesantren Pabuaran

La wong kehormatan kok. Ngarep-arep wae ora wani (berharap saja tidak), kata Gus Dur, sebagaimana tertulis di beberapa koran lokal, ketika itu.

Memelihara Tradisi

Meski demikian, Gus Dur memberikan makna tersendiri atas gelar ini. "Menerima gelar itu untuk melestarikan budaya daerah. Itu secara umum. Kalau kesan secara pribadi yang sangat dalam sekali, yang saya juga belum habis mengkajinya. Bagi saya ini adalah sebuah penghormatan bagi jalan hidup yang saya pilih, yakni supaya selalu menyerasikan Islam dengan budaya daerah, lanjutnya.

Gus Dur juga berharap dari pemberian gelar itu, akan tercipta hubungan yang baik antara Keraton dan Islam.

Dengan saya diakoni oleh keraton berarti hubungan Islam dan kekuasaan multikratonik. Dalam arti, bisa ngritik. Dulu ada keraton seperti ini, lalu ada keraton kecil-kecil, yakni pesantren-pesantren, ujar dia.

Satu harapannya, Keraton Surakarta dapat meneruskan tradisi. Itu sangat penting, terutama menyangkut teori multikratonik, antara agama dan budaya. Selama ini Kraton telah menjadi pemelihara dan pelestari budaya. Kalau ada yang hilang maka kebudayaan di daerah kita ini akan terganggu, papar Gus Dur. (Ajie Najmuddin)

Sumber terkait :

Harian Suara Merdeka edisi cetak, 10 Oktober 2002.

Wawancara Ketua Gusdurian Jateng, Hussein Syifa, 5 November 2014.

Dari (Fragmen) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/56554/kanjeng-pangeran-aryo-abdurrahman-wahid

Rabu, 01 Oktober 2014

Inilah Majalah Guru NU Tahun 60-an

Majalah Dunia Pendidikan diterbitkan oleh Pucuk Pimpinan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu). Edisi perdana mulai 17 April 1969, dan edisi terakhir (No.7), April 1970. Penerbitan majalah ini dianggap sebagai momentum kedewasaan Pergunu memasuki usia 17 tahun (berdiri Mei 1952). Memang singkat.

Namun sedikit banyak mengandung torehan sejarah masa kejayaan partai NU . Sebagai badan otonom, Pergunu telah mampu meneruskan kiprah NU dalam dunia media cetak. NU sendiri, hingga tahun 1972, punya organ resmi Harian Duta Masyarakat yang memiliki peran fenomenal selama tahun 1960-1965.

Inilah Majalah Guru NU Tahun 60-an (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Majalah Guru NU Tahun 60-an (Sumber Gambar : Nu Online)


Inilah Majalah Guru NU Tahun 60-an

Duta Masyarakat dikemudikan KH Saifuddin Zuhri (Pemimpin Umum) dan H. Mahbub Djunaidi (Pemimpin Redaksi), telah mengisi kekosongan media umat Islam, setelah partai Masyumi dibubarkanj (Agustus 1960) dan corong resminya Harian Abadi diberangus akibat pengaruh kuat Partai Komunis Indonesia. Sejak itu, Duta Masyarakat praktis menjadi penyambung suara umat Islam. Bukan hanya Nahdliyyin saja. Ketika Buya Hamka, sebagai pengarang buku novel Tenggelamnya Kapak van der Wijck dibantai habis-habisan oleh kaum komunis melalui koran Harian Rakyat, dan Warta Bhakti, plus Sulindo (corong PNI), Duta Masyarakat tampil menjadi pembela terdepan Hamka. Memuatkan tulisan-tulisan yang mendukung Hamka sambil balik menyerang komunis. Fakta ini, dapat ditelusuri dalam buku Tenggelamnya Kapal van der Wijkck dalam Polemik (Bulan Bintang, 1967).

Untuk menyalurkan aspirasi pendidik dan pendidikan secara khusus, PBNU merestui penerbitan Dunia Pendidikan oleh Pergunu. Sasaran pembacanya, adalah guru-guru madrasah atau sekolah umum yang menjadi aktivis NU. Pada nomor-nomor awal, disebutkan Dunia Pendidikan dicetak 10.000 eksemplar. Mulai nomor 7 meningkat menjadi 15.000 eksemplar. Suatu hal yang wajar,mengingat jumlah anggota Pergunu puluhan ribu orang. Pendistribusian juga cukup mudah, karena NU d/h Pergunu menguasai Departemen Agama RI.

Pondok Pesantren Pabuaran

Waktu itu, Menteri Agama adalah KH Ahmad Dahlan, yang juga Ketua IV PBNU di bawah Ketua Umum PBNU KH.DR.Idham Chalid. Dari pusat hingga ke pelosok (KUA), semua NU. Pengelola majalah Dunia Pendidikan terdiri dari tokoh-tokoh PP Pergunu yang juga praktisi pendidikan. Antara lain Drs.Marjiin Syam (Pemimpim Umum/Pemimpin Redaksi), HA Chumaidy (Wakil Pemimpin Umum/Wakil Pemimpin Redaksi), Drs.Jamhari (Pemimpin Perusahaan). Isi majalah Dunia Pendidikan relatif bagus untuk ukuran media internal.

Pondok Pesantren Pabuaran

Namun nampaknya mengalami kesulitan pasokan naskah. Setiap terbit, redaksi DP memuat pengumuman,menantikan karya tulis pembaca, baik asli maupun terjemahan. Terutama menyangkut bidang pendidikan dan keguruan yang bersifat obyektif ilmiah. Mungkin tak banyak penulis yang mampu memenuhi ajakan tersebut. Sehingga pada penerbitan yang singkat itu, DP sering mengutip atau memuatkan kembali tulisan yang pernah dimuat di media lain. Misalnya, pada DP No.5, Agustus 1969, dimuat tulisan Prof. DR. Achmad Sanusi Suatu Komentar Tentang Struktur Politik Menurut UUD 1945 dan Pacasila, yang telah dimuat dalam majalah Budaya Jaya No. 13, Juni 1969. Mungkin alasan redaksi DP pemuatan ulang tulisan Prof DR Achmad Sanusi, selain karena kebutuhan naskah, juga karena sosok penulisnya sebagai Nahdliyin.

Pada th. 1965, Pak Achmad Sanusi terkenal sebagai tokoh Persatuan Sarjana Muslim Indonesia (Persami) yang berafiliasi kepada NU. Tahun 1965 juga, Pak Achmad Sanusi mendapat mandat dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat (Jabar) untuk menjadi Pemimpin Umum Mingguan Sunda Bandung. Mingguan (kemudian Majalah) Sunda merupakan media yang amat keras dan berani terang-terangan melawan PKI. Penerbitannya (syarat untuk mendapat izin terbit dan jatah kertas) harus mendapat restu partai politik. PWNU Jabarlah yang memberi restu kepada mingguan/majalah Sunda dengan menempatkan Prof. DR. Achmad Sanusi di situ. Yang menjadi Pemimpin Redaksi Mingguan/Majalah Sunda adalah sastrawan/budayawan terkenal Ajip Rosidi. Kekurangan naskah mungkin hanya faktor kecil saja yang membuat DP berhenti terbit. Gerakan de-parpolisasi pasti menjadi penyebab utama. Terutama menghadapi Pemilu 1971 yang mempopulerkan slogan Parpol No, Pembangunan Yes.

Departemen Agama menjadi sasaran terpenting untuk dilepaskan dari keterkaitan dengan NU. Melalui Gabungan Peningkatan Pembangunan Umat Islam (GUPPI) yang digulirkan Mayjen Ali Murtopo (Komandan Operasi Khusus Opsus dan Sekpri Presiden Soeharto), ikatan Depag, NU dan Pergunu langsung cerai berai. Beberapa tokoh Pergunu yang juga pengelola DP menjadi tokoh penting GUPPI. Antara lain Drs. Jamhari. Pergunu sendiri, lenyap dari percaturan oraganisasi profesi, setelah muncul aturan (larangan) hanya ada satu organisasi untuk tiap professi. Untuk guru, hanya PGRI yang diakui (untuk professi wartawan, hanya PWI saja).

Di tengah geliat kebebasan berorganisasi masa kini, tak mustahil Pergunu akan bangkit kembali. Siapa tahu, majalah Dunia Pendidikan juga akan ikut hadir dengan isi dan kemasan lebih baik. Menandai tradisi bermassmedia yang dimiliki NU sejak harian Duta Masyarakat, SKM Warta NU, jurnal Pesantren, dll yang pernah menatahkan jejak kreativitas dan intelektualitas para Nahdliyyin. (Usep Romli HM)

KH Usep Romli HM, lahir di Balubur Limbangan, Kab.Garut, 16 April 1949. Pengasuh Pesantren Raksa Sarakan ini menulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia, mulai kumpulan sajak, ceritera anak-anak, humor pedesaan, humor terjemah dari bahasa Arab, humor pesantren, novel, kumpulan cerpen, kumpulan pengalaman jurnalistik.

Ia dua kali mendapat Hadiah Rancage. Yang pertama, hadiah sastra, untuk karyanya Sanggeus Umur Tunggang Gunung th.2010 dan yang kedua hadiah jasa berkat pengabdian terhadap bahasa dan sastra Sunda th.2011. Di lingkungan NU, pernah menjabat penasihat Lajnah Talif wan Nasr PWNU Jabar (1996-2001). Masa mudanya, selain nyantri, pernah aktif di IPNU dan GP Ansor.

Dari (Fragmen) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/50801/inilah-majalah-guru-nu-tahun-60-an

Sabtu, 09 Agustus 2014

NU Riyadh Arab Saudi Fasilitasi Pendidikan WNI

Riyadh, Pondok Pesantren PabuaranMajelis Wakil Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (MWCINU) Riyadh, Arab Saudi, memberi perhatian kepada mutu pendidikan para warga negara Indonesia (WNI) yang ada di Arab Saudi.

Mustasyar MWCINU Riyadh Anas Dliyaul Muqsith menegaskan pentingnya pendidikan, baik formal maupun non formal, bagi WNI yang berumur produktif. Hal ini dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

NU Riyadh Arab Saudi Fasilitasi Pendidikan WNI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Riyadh Arab Saudi Fasilitasi Pendidikan WNI (Sumber Gambar : Nu Online)


NU Riyadh Arab Saudi Fasilitasi Pendidikan WNI

Untuk mengatasi hal ini, kader NU dan MWCINU Riyadh bekerja sama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh. Harapannya, hasil kerja sama ini tidak hanya bisa dinikmati oleh WNI Riyadh, namun juga oleh WNI al-Qassim, sebuah kota yang terletak kurang lebih 350 kilometer di sebelah barat laut kota Riyadh.

Pernyataan ini muncul di sela-sela acara safari dakwah MWCINU Riyadh ke al-Qassim, sebuah kota yang terletak kurang lebih 350 meter di sebelah barat laut kota Riyadh. Rais Syuriyah MWCINU Riyadh KH Abdul Malik an-Namiri memimpin kegiatan tersebut pada hari-hari awal kepemimpinanannya, Sabtu (26/2)

Pondok Pesantren Pabuaran

Turut serta dalam rombongan safari dakwah ini Katib Syuriyah MWCINU Riyahdh H Syamsul Arifin, M Adnan, mahasiswa Jamiah Malik Saud; serta Irza A Syaddad dan M Ali Maksum, mahasiswa Jamiah al-Imam.

Rombongan bertolak dari Riyadh pada pukul 18.30 waktu setempat. Namun sebelum berangkat ke al-Qassim, rombongan terlebih dahulu singgah ke rumah salah satu Nahdliyin untuk mapati, upacara selamatan untuk janin yang berusia 4 bulan.

Pondok Pesantren Pabuaran

Tim safari dakwah sampai di al-Qassim pada pukul 01.00 waktu setempat. Pengajian yang diadakan oleh Nahdliyin al-Qassim terbilang unik. Pengajian dimulai pada pukul 01.30 dan selesai menjelang azan Subuh. Selain pengajian dan silaturahim ke sesama WNI yang tinggal di sana, Rais Syuriyah juga menyosialisasikan keberadaan MWCINU di Riyadh. (Red: Mahbib)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66189/nu-riyadh-arab-saudi-fasilitasi-pendidikan-wni

Pondok Pesantren Pabuaran

Senin, 06 Mei 2013

Presiden Yudhoyono Protes Soal Perjanjian Ekstradisi

Singapura, Pondok Pesantren Pabuaran. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan keberatan atas adanya anggapan bahwa lawatannya ke Singapura adalah untuk menandatangani perjanjian ekstradisi, yang proses perundingan tentang itu sebenarnya baru bergulir pada Januari 2005.

"Saya kaget, kalau ada yang menyebarkan isu, katanya saya mengatakan saya datang ke Singapura akan menandatangani perjanjian ekstradisi," kata Yudhoyono dengan nada tinggi saat jumpa pers pada akhir kunjungan dua harinya di Singapura, Rabu.

"Saya ingin memberikan koreksi kepada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang seolah-olah saya mengatakan --tidak pernah saya katakan di manapun, kapanpun--, bahwa kunjungan saya ke Singapura ini untuk menandatangani perjanjian ekstradisi," katanya menambahkan.

Selain membingungkan rakyat, ujarnya, anggapan seperti itu menyesatkan arah politik Indonesia serta mengganggu proses kerja sama antara Indonesia dengan Singapura. Kepala Negara juga mengulangi keberatannya jika ada anggapan bahwa pembicaraan mengenai perjanjian ekstradisi dengan Singapura tidak ada kemajuan.

Presiden Yudhoyono Protes Soal Perjanjian Ekstradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Yudhoyono Protes Soal Perjanjian Ekstradisi (Sumber Gambar : Nu Online)


Presiden Yudhoyono Protes Soal Perjanjian Ekstradisi

Menurutnya, Singapura jelas-jelas sudah menunjukkan kemajuan dalam kebijakannya, yang setelah puluhan tahun akhirnya bersedia untuk merundingkan lahirnya sebuah traktat ekstradisi antara Indonesia dan Singapura. Selain karena pembicaraan kedua negara masih berlangsung, ia menilai kurang realistis jika traktat ekstradisi itu bisa diwujudkan dalam waktu singkat.

"Selama 32 tahun sebelumnya sulit untuk mendapatkan kemajuan, tentu saya tidak mampu untuk menyelesaikannya selama 4 bulan ketika saya mengemban amanah ini," ujarnya.

Komitmen Singapura sendiri untuk akhirnya bersedia membicarakan masalah pembentukan perjanjian ekstradisi dengan Indonesia pertama kali diberikan beberapa waktu lalu oleh Goh Chock Tong saat menjabat perdana menteri Singapura kepada Presiden Megawati Soekarnoputri saat Goh melakukan lawatan ke Indonesia.

Pondok Pesantren Pabuaran

Komitmen itu kemudian ditegaskan kembali oleh PM Singapura, Lee Hsien Loong, saat bertemu dengan Presiden Yudhoyono pada hari Selasa (15/2) di Singapura.

Dalam jumpa pers bersama usai pertemuan tersebut, PM Lee mengatakan bahwa ia dan Yudhoyono sepakat menginstruksikan delegasi kedua negara untuk melanjutkan perundingan. Perundingan pertama tentang perjanjian ekstradisi kedua negara telah dilakukan pada Januari lalu, dan perundingan selanjutnya, ujar PM Lee, akan dilakukan pada Maret 2005.

Kompleks

Pondok Pesantren Pabuaran

Sementara itu, menurut Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin, perjanjian ekstradisi Indonesia-Singapura memerlukan diskusi yang dalam karena traktat tersebut menyangkut masalah perbedaan sistem hukum yang sangat menonjol. "Sebagai contoh, dalam sistem hukum Indonesia, ekstradisi menjadi kewenangan pihak pemerintah. Di Singapura, itu sebaliknya. Extradisi bisa digulirkan di pengadilan," ujar Hamid di Singapura.

Kemajuan yang telah dicapai sekarang, paparnya, bahwa tim teknis kedua negara telah bertemu dan membahas aspek-aspek yuridis masing-masing negara. Menurut Hamid, pertemuan teknis pertama yang dilakukan pada Januari lalu di Singapura, memfokuskan pembahasan pada sistem hukum Singapura.

Sementara pertemuan teknis kedua, katanya, akan dilangsungkan pada akhir Maret atau awal April 2005 dengan fokus membahas sistem hukum Indonesia. "Kemudian (setelah itu, red) akan dibicarakan kemungkinan kemungkinan mempertemukan kedua sistem hukum itu lalu merancang traktat (ekstradisi)," kata Hamid. Usai melakukan kunjungan dua hari di Singapura, Presiden Yudhoyono dan rombongan bertolak kembali ke Jakarta pada Rabu sore. (Ant/Cih)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/2739/presiden-yudhoyono-protes-soal-perjanjian-ekstradisi

Pondok Pesantren Pabuaran

Kamis, 26 April 2012

Sikap Kepada Muslim yang Berbeda Amaliyah

Pondok Pesantren Pabuaran - Bagaimana Sikap Kita Terhadap Sesama Muslim Yang Berbeda? Kewajiban kita tetap menghormati saudara sesama Muslim seperti firman Allah yang artinya: "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat." (Al-Ĥujurāt:10)

Dalam khutbah wada'nya pun Nabi berpesan:

Sikap Kepada Muslim yang Berbeda Amaliyah - Pondok Pesantren Pabuaran
Sikap Kepada Muslim yang Berbeda Amaliyah - Pondok Pesantren Pabuaran


Sikap Kepada Muslim yang Berbeda Amaliyah

المسلم اخ للمسلم وان المسلمين إخوة

"Seorang Muslim adalah saudara dengan Muslim lainnya. Dan semua umat Islam adalah bersaudara" (Kutub at-Tarikh wa Sirah)

Bagaimana jika mereka masih bersikeras suka menyalahkan kita? Tetap kita balas dengan kebaikan, seperti dalam hadist:

Pondok Pesantren Pabuaran

Pondok Pesantren Pabuaran

ﻋﻦ ﺣﺬﻳﻔﺔ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: " ﻻ ﺗﻜﻮﻧﻮا ﺇﻣﻌﺔ، ﺗﻘﻮﻟﻮﻥ: ﺇﻥ ﺃﺣﺴﻦ اﻟﻨﺎﺱ ﺃﺣﺴﻨﺎ، ﻭﺇﻥ ﻇﻠﻤﻮا ﻇﻠﻤﻨﺎ، ﻭﻟﻜﻦ ﻭﻃﻨﻮا ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ، ﺇﻥ ﺃﺣﺴﻦ اﻟﻨﺎﺱ ﺃﻥ ﺗﺤﺴﻨﻮا، ﻭﺇﻥ ﺃﺳﺎءﻭا ﻓﻼ ﺗﻈﻠﻤﻮا " رواه الترمذي

Dari Hudzaifah, Nabi bersabda: "Janganlah kalian menjadi setengah-setengah. Kalau mereka baik, maka kita berbuat baik. Kalau mereka berbuat dzalim, maka kita berbuat dzalim kepada mereka. Tapi teguhkan hatimu, jika mereka berbuat baik maka kalian membalas dengan kebaikan. Jika mereka berbuat buruk, maka kalian jangan berbuat dzalim" (HR Tirmidzi).

Dan apa yang kita lakukan terhadap banyak pertanyaan dan hujatan pada amaliah kita, hanyalah bentuk respons kepada mereka dengan memberi jawaban. Ketika amaliah kita dituduh macam-macam maka kita harus menjawabnya:

عن ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ، ﻳﻘﻮﻝ: ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ: «ﻣﻦ ﺳﺌﻞ ﻋﻦ ﻋﻠﻢ ﻓﻜﺘﻤﻪ ﺃﻟﺠﻢ ﻳﻮﻡ اﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﺑﻠﺠﺎﻡ ﻣﻦ ﻧﺎﺭ»

Dari Anas bin Malik bahwa Nabi bersabda: "Barangsiapa ditanya tentang ilmu lalu ia menyembunyikan, maka akan dicambuk di hari kiamat dengan cambuk dari neraka" (HR Ibnu Majah). [Pondok Pesantren Pabuaran]

akhukum, Ma'ruf Khozin

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/sikap-kepada-muslim-yang-berbeda-amaliyah.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Pabuaran sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Pabuaran. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Pabuaran dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock