Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Januari 2017

IPNU-IPPNU Ganding Kartinian dengan Khotmil Quran.

Sumenep, Pondok Pesantren Pabuaran. Sama seperti di tahun-tahun sebelumnya di berbagai tempat, momentum hari Kartini selalu diwarnai dengan berbagai acara untuk memperingati hari lahirnya sosok yang menjadi figur inspirasi perempuan di Indonesia.

Pengurus Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Kecamatan Ganding Kabupaten Sumenep menggelar khotmil Quran bersama Pengurus PAC dan Semua PK yang ada di kecamatan tersebut sebagai bentuk peringatan yang lebih efektif dan lebih bermanfaat sebagai putra-putri NU, pada pada Jumat (21/04).

IPNU-IPPNU Ganding Kartinian dengan Khotmil Quran. (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Ganding Kartinian dengan Khotmil Quran. (Sumber Gambar : Nu Online)


IPNU-IPPNU Ganding Kartinian dengan Khotmil Quran.

"Sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada sosok Kartini yang menjadi inspirasi bagi kaum perempuan di tanah air sampai saat ini, PAC IPNU-IPPNU Ganding merayakannya bersama kader-kader kami baik dari tingkat PAC hingga ke seluruh PK, kata mahasiswa semester 6 ini.

Perempuan yang akrab disapa Mbak Aien ini menambahkan bahwa dalam kegiatan ini memang dikemas dengan kegiatan yang lebih bermanfaat daripada sekedar seremonial dengan memakai baju kebaya.

Pondok Pesantren Pabuaran

"Berbeda dengan kegiatan-kegiatan biasanya, kegiatan ini kami isi dengan khotmil Quran menghatam Al-Quran di hari Kartini bersama putra-putri NU," tandas Ainiyaturrahmah.

Pondok Pesantren Pabuaran

Senada dengan yang disampaikan oleh ketua PAC IPPNU Ganding, Khotib selaku koordinator bidang pengembangan dakwah dan minat organisasi menambahkan, momentum hari Kartini ini diharapkan menjadi pemecut semangat perempuan-perempuan di tanah air terlebih perempuan di Kecamatan Ganding.

"Meskipun sosok Kartini telah tiada, namun semangat dan perjuangannya tidak boleh mati di hati perempuan Indonesia terlebih Rekanita PAC IPPNU Ganding. Oleh karenanya momentum hari Kartini ini harus menjadi awal dari perubahan perempuan tanah air, Jadilah Kartini masa kini," ujarnya.

"Kegiatan Khotmil Quran ini merupakan kegiatan rutinan Jumat manisan, kebetulan kali berbarengan dengan hari terakhir Jumat Rajab sekaligus bertepatan dengan hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April," tambahnya.

Hadir pula dalam kegiatan tersebut beberapa pengurus dari PAC terdekat dan Komandan Banser Ganding serta beberapa perwakilan OSIS yang sengaja diundang untuk mendekatkan diri para pelajar di lingkungan NU. (Vinanda Febriani/Mukafi Niam)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77255/ipnu-ippnu-ganding-kartinian-dengan-khotmil-quran

Pondok Pesantren Pabuaran

Rabu, 16 Desember 2015

Pakde Karwo: Perempuan Bagian Penting Pembangun Bangsa

Surabaya, Pondok Pesantren Pabuaran. Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengapresiasi Fatayat NU yang melahirkan anak-anak hebat calon pemimpin. Ia bangga kota Surabaya mendapat amanah sebagai tempat kongres perempuan muda NU.

Gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo mengatakan hal tersebut pada saat didaulat memberikan sambutan selaku tuan rumah pada upacara pembukaan Kongres ke-15 Fatayat di GOR Surabaya, Sabtu (19/9).

Pakde Karwo: Perempuan Bagian Penting Pembangun Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pakde Karwo: Perempuan Bagian Penting Pembangun Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)


Pakde Karwo: Perempuan Bagian Penting Pembangun Bangsa

"Judul atau tema kongres ini sangat tepat. Ini sesuai dengan prestasi Jawa Timur yang enam kali berturut-turut mendapat juara di bidang gender. Ini merupakan penghormatan kepada perempuan agar lebih berkeadaban," ujar gubernur yang disambut aplaus hadirin.

Pakdhe Karwo, sapaan akrabnya, mewartakan setidaknya ada 836 perempuan di Jatim yang mendapat hibah untuk mengembangkan ekonomi. Program ini untuk meningkatkan kesejahteraan single parent di wilayah Jawa Timur agar hidupnya lebih berkeadaban.

Pondok Pesantren Pabuaran

"Nah, lagi-lagi ini sama dengan tema kongres Fatayat hari ini. Kami sepakat bahwa perempuan menjadi bagian penting untuk membangun bangsa ini," tandasnya.

Pondok Pesantren Pabuaran

Bagi dia, perempuan juga memiliki persoalan tentang kematian ibu dan anak. Ini juga patut diperhatikan oleh Fatayat. "Pekerjaan kita makin berat, di saat terjadi reses ekonomi. Jangan sampai defisit. Ini tugas perempuan juga. Bagaimana kita bisa mengerem belanja agar tidak membengkak," ajaknya.

Selain Gubernur Jawa Timur beserta jajarannya, hadir juga dalam upacara pembukaan tersebut senior Fatayat Nyai Hj Mahfudhoh Ali Ubayd, Dr Hj Sri Mulyati Asrori, Hj Fatma Saifullah Yusuf. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Foto: Gubernur Jatim Soekarwo saat berbincang dengan Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj dan tokoh perempuan Nursyahbani Katcasungkana di sela Kongres Fatayat, Sabtu (19/9)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62292/pakde-karwo-perempuan-bagian-penting-pembangun-bangsa

Pondok Pesantren Pabuaran

Senin, 15 Juni 2015

Santri Annuqayah Ungkap 10 Kelebihan Desa Teladan

Pamekasan, Pondok Pesantren Pabuaran. Salah seorang santri Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur, Arief Al Miftah, mengungkapkan ciri-ciri desa teladan. Hal itu dia dapatkan setelah selama sebulan menjalani kuliah kerja nyata (KKN) di Kabupaten Pamekasan.

Menurut mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) tersebut, terdapat beberapa program dan tata kelola yang patut dicontoh oleh aparatur desa yang masih mengalami stagnasi dalam menjalankan program kerjanya.

Santri Annuqayah Ungkap 10 Kelebihan Desa Teladan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Annuqayah Ungkap 10 Kelebihan Desa Teladan (Sumber Gambar : Nu Online)


Santri Annuqayah Ungkap 10 Kelebihan Desa Teladan

Itu berdasarkan pengamatannya di Desa Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan. "Setidaknya terdapat 10 kelebihan Desa Lembung," ujarnya setelah menjalani KKN selama sebulan yang berakhir Ahad (7/2).

Pondok Pesantren Pabuaran

Pertama, terang Arief, di Desa Lembung, piket penjagaan balai desa aktif tiap hari, kecuali Minggu. Petugas baru bisa pulang pada pukul 12.00 WIB. Kedua, pamong/aparatur desa diberikan uang insentif tiap 3 bulan sekali sebesar 2.800.000. Aparatur juga difasilitasi seragam dinas dan seragam olahraga.

Ketiga, setiap seminggu sekali, semua aparatur melakukan kerja bakti, bekerja sama dengan warga setempat. Tak terkecuali kepala desa beserta sekdesya.

Pondok Pesantren Pabuaran

"Keempat, setiap ada warga yang meninggal dunia, terdapat uang santunan dari desa. Selanjutna, setiap ada warga yang sakit, desa menyediakan mobil untuk transportasinya ke puskesmas atau rumah sakit. Dan kepala desa juga ikut membantu mengurusi administrasi dan pembiayaannya," papar Arief.

Keenam, setiap malam Jumat, di berbagai dusun ada kompolan tahlilan. Dan itu masih dalam koordinasi desa dengan menfungsikan kepala dusun.

Ketujuh, aparatur desa dipilih berdasarkan kualitas, bukan hanya integritas dan insentabilitas. Meskipun ketika pemilihan kepala desa (pilkades), dia di pihak lawan. Kalau dia berkualitas, tetap akan dipilih.

"Lawan bisa menjadi kawan". Tak ada konsep blater di desa Lembung," tekannya.

Kelebihan yang kedelapan, setiap perencanaan pembangunan desa, aparatur tak semena bermusyawarah sendiri, tapi juga mengundang tokoh masyarakat, kader muda, dan berbagai lapisan di masyarakat. Ini sebagai upaya untuk menjaga dan cek and balencing masyarakat tetap kentara.

Sembilan, koordinasi dari masyarakat, kepala dusun, kaur, sekdes, dan kades, sangat solid. Manajemen komunikasinya juga sangat bagus.

Terakhir, kegiatan PKK (pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga) rutin terlaksana sekali dalam seminggu. Rangkaian kegiatannya beragam, mulai dari arisan, penyajian soal cara mendidik anak, pembekalan keterampilan, dan lain sebagainya.

"Apakah di desa Anda juga demikian? Jika tidak, segera telusuri, dikawal. Sebab, anggaran dana desa (ADD) dan dana desa (DD) untuk tahun anggaran 2016 tak tanggung-tanggung, mencapai 2 miliar," tandasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/65591/santri-annuqayah-ungkap-10-kelebihan-desa-teladan

Pondok Pesantren Pabuaran

Selasa, 14 April 2015

Perpisahan, Santri Futuhiyah Pentaskan Teater

Demak, Pondok Pesantren Pabuaran. Lihatlah, lihatlah tukang rosok itu. Dia tetap berusaha untuk makan meski keadaan sudah sangat menghawatirkan. Hanya tukang rosok itu yang tidak mengeluh dengan keadaan desa ini.

Ini bukan masalah mengeluh ataupun sabar menghadapi ujian, Pak Bob. Masalah ini menyangkut warga saya. Saya bertanggung jawab dengan keadaan ini, Pak Bob.

Perpisahan, Santri Futuhiyah Pentaskan Teater (Sumber Gambar : Nu Online)
Perpisahan, Santri Futuhiyah Pentaskan Teater (Sumber Gambar : Nu Online)


Perpisahan, Santri Futuhiyah Pentaskan Teater

Itulah sepenggal adegan dialog dari lakon "Hujan di Ujung Senja" yang akan dibawakan kelompok terater Fatah dari Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak. Lakon "Hujan Di Ujung Senja" akan dipentaskan dalam rangka Haflah Akhiris Sanah, Khotmil Kutub, dan Muwaadaah atau upacara perpisahan Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak, Jawa Tengah, Rabu (13/5) malam, di halaman pesantren setempat.

Pondok Pesantren Pabuaran

Lakon Hujan Di Ujung Senja karya dari Miftahul Khoir memuat kritik terhadap menurunnya moral anak bangsa. Karya ini berawal dari puisi, yang kemudian diubah menjadi naskah drama.

Sebuah karya yang berawal dari puisi ketika saya galau di suatu senja melihat menurunnya moral anak bangsa dan akhirnya menjadi naskah drama Hujan di Ujung Senja, kata Khoir.

Pondok Pesantren Pabuaran

Sang sutradara, Sholihul Hadi, juga akan menambahkan beberapa adegan yang menggelitik dan lelucon pada seni pertunjukkan yang semua para pemainnya adalah santri ini.

Ya, walaupun waktu latihan sangat singkat sekali, hanya sebulan, kami yakin akan memberikan pengalaman baru bagi santri dalam pementasan terater nanti. Ini juga dalam rangka melestarikan pagelaran seni di lingkungan pesantren, jelas Bang Khul, panggilan akrabnya.

Lakon ini nanti akan dipentaskan oleh 15 santri. Berbagai karakter dimasukkan dalam cerita tersebut.

Banyak hal saya peroleh saat latihan seperti kedisiplinan, konsentrasi, tanggungjawab, dan lain-lain, kata Adib Hidayatulloh, mengungkapkan kegembiraanya atas pengalaman pertamanya ini. (Ben Zabidy/Mahbib)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59459/perpisahan-santri-futuhiyah-pentaskan-teater

Pondok Pesantren Pabuaran

Rabu, 19 Maret 2014

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima

Jakarta, Pondok Pesantren Pabuaran. Politik dan ekonomi yang diangkat sebagai panglima bagi masyarakat Indonesia, terbukti gagal memberikan kemaslahatan bagi mereka. Kendati demikian, mereka tidak berani mengangkat budaya sebagai panglima.

Demikian dikatakan Wakil Rais Am PBNU KH A Musthofa Bisri yang lazim disapa Gus Mus dalam pidato budaya pada malam Festival Budaya Pesantren di Balai Kartini Kavling 37, Kuningan Timur, Jakarta Selatan, Sabtu (20/4) malam.

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima (Sumber Gambar : Nu Online)


Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima

Bagi Gus Mus, budaya kesederhanaan, kebiasaan gotong royong, dan tingginya rasa persaudaraan sesama manusia, sanggup menyehatkan kembali mereka dari kemerosotan susila yang sangat meresahkan kini. Tetapi mereka mengabaikan aspek budaya.

Menurut Gus Mus, mereka masih berharap pada politik dan ekonomi. Padahal, politik sebagai panglima seperti di era Bung Karno telah mengantarkan masyarakat pada suatu keadaan yang mengkhawatirkan. Mereka terkotak-kotak dalam aneka warna partai. Antartetangga saling membunuh hanya karena perbedaan warna bendera partai.

Pondok Pesantren Pabuaran

Kenyataan itu dikritik di zaman Suharto. Kalau politik tidak membuat perut kenyang, kenapa politik dijadikan panglima? Lalu Suharto menjadikan ekonomi sebagai panglima, kata Gus Mus di hadapan sedikitnya 1500 kader Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor).

Ekonomi, lanjut Gus Mus, bukanlah panglima yang baik. Orde baru yang menilai pertumbuhan ekonomi sebagai capaian-capaian pembangunan, membuat erosi mental dan etika masyarakat. Perebutan sumber-sumber perekonomian, menghilangkan kesederhanaan mereka. Celakanya, materi membuat mereka sangat mencintai dunia.

Pondok Pesantren Pabuaran

Kesederhanaan sebagai harta termahal masyarakat Indonesia, didesak panglima ke pinggir. Harga diri manusia Indonesia diukur dari materi semata. Kecurigaan satu sama lain, sikap individualitas, dan kesenjangan kelas sosial yang menjurang menguat, tegas Gus Mus dalam festival yang menjadi awal rangkaian harlah ke-79 GP Ansor.

Sementara di era reformasi, mereka kembali menjadikan politik sebagai panglima. Panglima sekarang ini lebih kejam dari panglima di era Bung Karno. Karena, panglima politik era ini, memimpin setelah mereka melewati kejamnya 32 tahun ekonomi bercokol. Dengan demikian, mereka menstandarkan kemanusiaannya pada acuan materi dan kekuasaan sekaligus, tutup Gus Mus.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/43967/gus-mus-jadikan-budaya-sebagai-panglima

Pondok Pesantren Pabuaran

Senin, 08 Juli 2013

Buku Biografi KH Sholeh Darat, Mahaguru Ulama Nusantara

Pondok Pesantren Pabuaran - Sejarah kebangkitan ulama Nusantara abad 19-20 tidak dapat dilepaskan dari Kiai Sholeh Darat al-Samarani. Melalui bimbingannya, lahirlah tokoh dari berbagai kalangan, ulama dan nasional seperti Kiai Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), Kiai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Syaikh Mahfudz al-Termasi (pengajar di Masjidil Haram), Syaikh Umar ibn Sholeh al-Samarani (pengajar di Masjidil Haram), dan raden Ajeng Kartini (tokoh emansipasi wanita).

Buku Biografi KH Sholeh Darat, Mahaguru Ulama Nusantara
Buku Biografi KH Sholeh Darat, Mahaguru Ulama Nusantara


Semenjak berkiprah di Haramain, sebagai pengajar di Masjidil Haram, Kiai Sholeh Darat al-Samarani semakin meroket namanya. Ia akrab dengan penguasa Hijaz dan akâbir al-ulama al-haramain (pembesar ulama Makkah dan Madinah).

Karena posisinya yang digandrungi penguasa dan ulama Haramain, ia diminta untuk bertempat tinggal dan mengabdikan diri hingga akhir hayatnya. Melihat kondisi Nusantara yang masih membutuhkan banyak figur ulama, untuk mengentaskan pribumi dari kungkuman kebodohan sehingga menjadi makanan empuk oleh penjajah supaya terus dijajah, terbesitlah dalam diri Kiai Hadi Girikusumo untuk mengajaknya pulang ke Nusantara, Jawa Tengah.

Karena sudah terikat kontrak dengan penguasa Hijaz, akhirnya ia terkena denda jika ingin meninggalkan tugasnya sebagai seorang pengajar di Masjidil Haram. Ketika sudah berkiprah di Nusantara, Kiai Sholeh Darat al-Samarani tidak langsung mendirikan sebuah pesantren sebagai media dakwahnya.

Terlebih dahulu ia mengabdikan diri sebagai guru bantu di Pesantren Salatiyang, Purworejo, Jawa Tengah yang diasuh oleh kiai Muhammad Alim. Ia mendirikan pesantren sendiri setelah berkiprah di darat, usai diambil menantu Kiai Murtadlo al-Samarani.

Kehadiran Kiai Sholeh Darat al-Samarani beserta pesantrennya menjadi magnet kuat bagi thalabah Nusantara, khususnya pulau Jawa untuk bertafaqquh fiddin. Murid-muridnya berdatangan, bukan hanya dari kalangan rakyat jelata, namun kaum bangsawan atau priyayi juga berduyun-duyun mendatangi majlis yang diselenggarakannya.

Mereka mendapat oase di tengah padang pasir dari setiap butiran keilmuan yang disampaikan olehnya yang kental dengan dunia tasawuf, membuat hati menjadi bening dalam menapaki jalan menuju makrifat kepada Allah.

Kiai Sholeh Darat al-Samarani dikenal sebagai seorang sufi, ahli rabbani (ahli ketuhanan), dan mempunyai banyak karomah. Karena kentalnya dunia tasawuf yang digelutinya, maka tidak mengherankan jika ia dijuluki sebagai Imam al-Ghazali al-Shagir (Imam al-Ghazali kecil) dari Nusantara.

Buku karya Amirul Ulum ini telah mengupas rekam jejak Kiai Sholeh Darat al-Samarani dengan pembahasan lain dari yang lain dari kebanyakan buku-buku yang ada. Ia menyajikan ulasan pengaruh Kiai Sholeh Darat al-Samarani dari Nusantara hingga mengglobal (jaringan local dan global), kajian karya tulisnya, dan mengupas tentang sanad Fiqih Syafiiyah yang diriwayatkan darinya.

Banyak hal baru yang ditampilkan oleh penulis sehingga, boleh dikata buku ini merupakan buku bertuliskan latin yang paling lengkap dalam membahas tentang Kiai Sholeh Darat al-Samarani. [Pondok Pesantren Pabuaran]

Judul Buku: KH. Muhammad Sholeh Darat al-Samarani; Maha Guru Ulama Nusantara Penulis: Amirul Ulum Penerbit: CV. Global Press Kategori: Sejarah Ulama Nusantara Tebal: xxx+ 254 Halaman

Cetakan I : Oktober 2016 Ukuran: 13,5×20,5

Harga: Rp. 70.000,- (belum ongkos kirim)

Nomor Pemesanan: 085327647490 (Mas Zulfa, dikirim dari Semarang. Stok terbatas)

Dwi Oktaviani Kurniawati, peminat Kajian Sejarah Ulama Nusantara

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/buku-biografi-kh-sholeh-darat-mahaguru-ulama-nusantara.html

Senin, 03 Juni 2013

Gus Kelik Krapyak Itu Wali Allah

Pondok Pesantren Pabuaran - Kabar duka menyebar ke seluruh penjuru negeri ketika KH. Agus Rifqi Ali bin KH. Ali Maksum bin KH. Maksum (Lasem) Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta, wafat. Gus Kelik, sapaan akrabnya meninggal dunia pada Selasa (2/8/2016), pukul 22.10. Innalillahi wa inna ilahi rajiun.

Dalam pandangan saya, Gus Kelik adalah termasuk golongan para wali Allah. Hal ini terbukti sejak lahir, ia telah memperlihatkan keanehan yang tidak dilakukan kebanyakan kalangan, bahkan cenderung dianggap sebagai di luar nalar.

Gus Kelik Krapyak Itu Wali Allah - Pondok Pesantren Pabuaran
Gus Kelik Krapyak Itu Wali Allah - Pondok Pesantren Pabuaran


Gus Kelik Krapyak Itu Wali Allah

Seingat saya, KH. R. Hafidz Abdul Qodir bercerita bahwa Mbah Ali Maksum pernah meminta doa kepada KH. Abdul Hamid Pasuruan untuk Gus Kelik agar bisa hidup layaknya orang normal. Ternyata Mbah Hamid justru memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak harus diambil pusing. “Tidak apa-apa, tambah aku yang jaluk (minta) doa neng Gus Rifqi,” kata Mbah hamid kala itu.

Semenjak itulah KH. Ali Maksum sayang kepada Gus Kelik, bahkan sampai berwasiat kepada keluarga “Jaga Rifqi, insya Allah masuk surga alias dialah yang merawatnya.”

Pondok Pesantren Pabuaran

Penulis pernah dipanggil Gus Kelik ketika hendak membeli rokok di Kopontren Al-Munawwir. Dengan mendekat, ia berkata: “Kang, ada uang seribu rupiah?” Saya jawab ada. Dan hampir setiap santri di Krapyak pernah dimintai uang yang nominalnya berbeda.

Dalam keseharian, Gus Kelik memiliki kebiasaan mencari kardus di toko sekitar pesantren. Ia juga menyewakan alat katering. Anehnya, setiap tahun hasil dari usahanya ini digunakan memberangkatkan jamaah ziarah Wali Songo. Santri yang ikut diminta membayar semampunya, bahkan tidak sedikit yang gratis.

Pondok Pesantren Pabuaran

Keanehan yang tidak lumrah terhadap Gus Kelik, ketika kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Gur) di Pondok Krapyak. Kala itu Gus Dur tidak mau duduk kecuali berdampingan dengan Gus Kelik. Tidak hanya itu, justru Gus Dur lah yang mencium tangannya.

Gus Kelik dikatakan wali karena setelah menikah, ternyata memiliki pengetahuan dan pemahaman kitab kuning yang mumpuni. Ia juga bisa mengaji kitab dan memimpin shalawat. Padahal, semenjak kecil sampai dewasa tidak pernah menyentuh kitab apa pun.

“Nasib” para wali Allah apabila telah diketahui keunggulan dan kelebihannya justru berakibat usia yang singkat. Sehingga ketika sebagian kalangan sudah melihat derajat atau maqam kewalian yang dimiliki, ajal akhirnya menjemput yang bersangkutan. Termasuk dalam hal ini adalah sosok Gus Kelik.

Ia wafat di RS Panembahan Senopati Bantul dalam usia 58 Tahun. Selamat jalan dan menemui Rabb-mu, dan kami mengiringi dengan untaian doa. [Pondok Pesantren Pabuaran]

Ifdlolul Maghfur, santri Pesantren Madrasah Hufadz Krapyak (1999-2008) dan Pengurus PW LTN NU Jatim.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/gus-kelik-krapyak-itu-wali-allah.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Pabuaran sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Pabuaran. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Pabuaran dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock