Tampilkan postingan dengan label Habaib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habaib. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2016

Soal Membaca, Gus Dur miliki kekuatan luar biasa

Kudus, Pondok Pesantren Pabuaran. Presiden keempat RI KH.Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memiliki kekuatan membaca yang luar biasa. Gus Dur adalah sosok tauladan yang mampu menjadi inspirasi dalam pengembangan nilai-nilai karakter.

"Oleh karenanya, kader muda NU harus sering-sering mendiskusikan maupun membedah buku pemikiran Gus Dur untuk melengkapi hasanah pengetahuan serta meneladani perjuangannya, kata Pengurus Bidang Diklat dan Litbang PW LP Maarif Jawa Tengah Muchlas Yusack saat menjadi pembicara bedah novel Mimpi-Mimpi Jokowi di Aula MANU Miftahul Falah Cendono Dawe Kudus tersebut, Rabu (31/10).

Muchlas Yusach mengutarakan kegemaran Gus Dur membaca buku sudah dilakukan sejak kecil. Bahkan ketika sedang sakit, Gus Dur masih menyuruh anaknya membacakan buku dan ia mendengarkannya.

Soal Membaca, Gus Dur miliki kekuatan luar biasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Membaca, Gus Dur miliki kekuatan luar biasa (Sumber Gambar : Nu Online)


Soal Membaca, Gus Dur miliki kekuatan luar biasa

"Ini artinya, membaca merupakan sebuah karakter yang harus dilakukan setiap orang. Apalagi wahyu pertama yang turun kepada Nabi itu adalah perintah baca (iqro)."tandas Yusack yang didampingi pembicara lainnya, Haryo wibisono (penulis novel Mimpi-Mimpi Jokowi) Rosidi (Jurnalis Suara Merdeka).

Mengenai buku Mimpi-mimpi Jokowi karya Haryo Wibisono ini, Yusack mengapresiasi. Menurutnya, buku tersebut tertanam nilai-nilai budaya yang bisa menjadi contoh bagi pembaca maupun pelajar.

"Kisah Jokowi dalam novel ini terdapat beberapa karakter yang patut diteladani diantaranya kesederhanaan, kejujuran maupun merakyat, Dalam kondisi saat ini, sosok pemimpin yang seperti inilah yang dibutuhkan masyarakat," tegasnya.

Pondok Pesantren Pabuaran

Penulis Buku Haryo Wibisono mengatakan dirinya menulis kisah Jokowi karena terinpsirasi oleh sosoknya yang sederhana namun memiliki semangat hidup yang tinggi. "Saya sebetulnya tidak suka politik, tetapi melihat sosok Jokowi saya tergugah menulisnya," ujarnya.

Ia menekankan sosok Jokowi memiliki kekuatan bertahan dari tempaan ujian, penderitaan dan tantangan yang keras, "Tetapi dirinya, tidak pernah mengeluh sama sekali. Ia meyakini kesuksesan dalam hidup adalah berpindahnya persoalan satu ke persoalan lainnya dan dihadapi dengan sabar," tambahnya.

Pondok Pesantren Pabuaran

Sementara Rosidi menilai kehadiran buku mimpi-mimpi Jokowi ini pada momentum yang tepat. Artinya, sosok yang ditulis mampu menjadi inspirasi di tengah kondisi bangsa yang mengalami krisis keteladanan,

"Meski buku ini masih banyak kelemahannya, tetapi setidaknya kisah jokowi ini mampu menjadi spirit keteladanan bagi pemimpin dan masyarakat," tambahnya seraya mengkritisi buku tersebut.

Acara bedah buku yang diselenggarakan PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Dawe bekerja sama OSIS MA NU Miftahul Falah Cendono Dawe ini digelar dalam rangka memperingati sumpah pemuda. Pada kesempatan itu, semua peserta yang sebagian besar pelajar se Kabupaten Kudus mengucapkan ikrar sumpah pemuda sebagai upaya meningkatkan rasa nasionalisme.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/40579/soal-membaca-gus-dur-miliki-kekuatan-luar-biasa

Pondok Pesantren Pabuaran

Jumat, 26 Juni 2015

Hidayatul Islamiyah, Pesantren yang Menyatu dengan Alam

Di pinggiran perbatasan Kecamatan Dander dan Kota Bojonegoro, tepatnya di Dusun Kedunggayam, Desa Karangsono, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro terdapat satu Pondok Pesantren yang tampak sederhana. Setelah menempuh jarak 10 kilometer dari pusat Kota Bojonegoro, melewati jalan setapak sempit, di tengah rerimbunan pohon bambu dan di sekitar aliran sungai yang bergemiricik lengkap dengan bentangan sawahnya, terlihatlah bangunan Pondok Pesantren Hidayatul Islamiyah yang berdiri sejak tahun 1998 silam.

Sang pendiri, Kiai Khoiri Amin menceritakan, awal mula berdirinya Pesantren yang menempati tanah seluas lebih dari satu hektare ini.

Hidayatul Islamiyah, Pesantren yang Menyatu dengan Alam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidayatul Islamiyah, Pesantren yang Menyatu dengan Alam (Sumber Gambar : Nu Online)


Hidayatul Islamiyah, Pesantren yang Menyatu dengan Alam

Dikatakan, semasa awal berdirinya Pesantren Hidayatul Islamiah santri yang ada hanya dua anak, Surip dan Syarifuddin. Selang beberapa tahun santri pun bertambah meskipun tidak seberapa banyak.

Awalnya hanya ada dua santri, Surip dan Syarifuddin, tapi lama kelamaan berdatangan santri dari daerah-daerah di wilayah Bojonegoro hingga ada yang dari luar kota, jelas bapak empat anak ini.

Pondok Pesantren Pabuaran

Diceritakan, di pondok yang beliau asuh selain memberikan pendidikan yang berbasis wawasan keilmuan umum dan keagamaan juga memberikan wawasan bersosilisasi dengan masyarakat, pengembangan skill santri. Bahkan, santri juga dibimbing dan dibina hingga mereka berumah tangga.

Pondok Pesantren Pabuaran

Sebagaimana santri pertama, Surip yang namanya diganti menjadi Syamsul Huda tetap tinggal di Pesantren hingga berumah tangga bahkan sampai akhir hidupnya. Surip saya ganti namanya jadi Syamsul Huda, dia wafat dan saya kubur di dekat pondok, ujar kiai lulusan Pesantren Talimul Quran, Gresik ini.

Lebih lanjut pengasuh pesantren yang murah senyum ini menceritakan, degradasi moral bangsa menjadi faktor utama didirikannya pendidikan non formal berupa Pesantren Hidayatul Islamiah dan pendidikan formal setingkat Raudhotul Athfal (RA) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) . Menurut Kiai Choir, begitu beliau akrab dipanggil, perlu perhatian khusus pada karakter bangsa yang kian hari kian bobrok.

Sekarang banyak anak muda yang LKMD, alias lamar kari meteng disek (melamar belakangan, hamil duluan), ujarnya dengan nada bergurau tapi serius.

Dikatakan, saat ini moral bangsa sedang dipertaruhkan, menghadapi gencarnya budaya luar. Sebab itu, kiai ini menghimbau agar pendidikan karakter harus benar-benar diterapkan di pendidikan formal, jangan hanya sekadar wacana tanpa ada tindak lanjut. Moral bangsa harus benar-benar diberi perhatian khusus terutama pada lembaga-lembaga formal, jelasnya.

Nak de biyen akeh wong bender ra pathi pinter, tapi nak sak iki akeh wong pinter ra pathi bendher, ungkapnya berkelakar.

Dia menambahkan, pengaruh luar kerap kali meracuni pikiran masyarakat terutama kalangan remaja. Sehingga tak jarang mayoritas pemuda lupa akan hakikat kesederhanaan dan bagaimana cara bersosialisasi dengan masyarakat sebagai individu sosial.

Suasana Damai

Kegiatan di pondok yang letaknya terasing dari keramaian ini penuh dengan kesederhanaan, namun tetap dengan unsur spiritual yang kental sebagai nutrisi moral. Sehabis Shubuh, kegiatan mengaji kitab sorogan dilakukan. Uniknya kajian ini digelar di mana pun tempatnya, asal menyatu dengan alam. Baik itu di sawah, di sekitar kolam maupun di pekarangan dekat sungai. Tergantung, di mana saat itu sang kiai berada. Hal ini sebagai wujud belajar alami. Hal ini dimaksudkan agar para santri bisa mengamati alam dan mengambil itibar dari ayat-ayat kauniyah. Biar santri tahu, bahwa meraka hidup dengan alam yang wajib dijaga dan dilestarikan, ungkapnya.

Bukan hanya itu, kesederhanaan sangatlah tampak dari pondokan-pondokan santri yang terbuat dari kayu sederhana dengan luas sekitar 2x2 meter. Pondokan ini dikenal dengan istilah Rompok. Selain rutinitas kajian kitab wetondan salaf, santri juga belajar hidup dengan kegiatan pelatihan bercocok tanam, perikanan, dan perkebunan. Kegiatan tersebut sebagai analogi bahwa jiwa yang sehat terdapat pada badan yang kuat (Al-Aqlu As-Shalim fil Jismi As-Salim).

Sebagai bahan latihan bagi santri ketika terjun ke masyarakat, selain itu juga mengingatkan mereka bahwa jiwa yang sehat terdapat pada badan yang kuat, terang kiai asal Kepohbaru ini.

Selain mengkaji kitab salaf juga dilaksanakan pelatihan mukhadhoroh, dzibaan, tahlilan dan qosidah burdah di hari-hari khusus. Tak tanggung-tanggung, semua kegiatan, sarana dan pra sarana di pesantren ini tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis.

Santri pun berdatangan tidak hanya dari sekitar Kota Bojonegoro, namun juga berasal dari luar kota seperti Lamongan, Gresik, hingga merambah wilayah Jawa Tengah. (Nidhomatum MR)

Dari (Pendidikan Islam) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/63392/hidayatul-islamiyah-pesantren-yang-menyatu-dengan-alam

Pondok Pesantren Pabuaran

Senin, 08 Desember 2014

Lembaga PBNU Diukur Kinerjanya Berdasarkan Key Performance Indicator

Jakarta, Pondok Pesantren Pabuaran. Untuk meningkatkan kinerja lembaga-lembaga NU yang totalnya berjumlah 18, PBNU akan menggunakan parameter keberhasilan Key Performance Indicator. Setiap enam bulan, nantinya akan dilaporkan kinerja lembaga-lembaga tersebut kepada ketua umum PBNU.

Nanti akan ketahuan, mana yang nilainya merah, kuning dan hijau. Lalu dari situ kita bisa melakukan penanganan lebih lanjut, kata PBNU Helmy Faishal Zaini.

Bukan hanya di lingkungan PBNU, ia berharap model ini bisa menjadi prototype yang dilaksanakan di tingkat Wilayah dan Cabang NU.

NU merupakan organisasi perkhidmatan, tetapi juga harus dikelola dengan baik, tegasnya.

Lembaga PBNU Diukur Kinerjanya Berdasarkan Key Performance Indicator (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga PBNU Diukur Kinerjanya Berdasarkan Key Performance Indicator (Sumber Gambar : Nu Online)


Lembaga PBNU Diukur Kinerjanya Berdasarkan Key Performance Indicator

Kita harapkan ini bisa menjadi prototype sehingga wilayah dan cabang bisa meniru. Dengan pengelolaan organisasi yang baik, ini akan membantu memperkaya khazanah yang ada. Jadi nanti khazanah yang dimiliki akan terpublish dengan baik.

Pada periode sebelumnya, lembaga dan badan otonom di lingkungan NU hanya dimintai laporan menjelang pelaksanaan musyawarah nasional (munas) dan konferensi besar (konbes) yang pelaksanannya sekitar dua tahun setelah muktamar. Ini menyebabkan evaluasi berjalan lambat. (Mukafi Niam)

Pondok Pesantren Pabuaran

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62120/lembaga-pbnu-diukur-kinerjanya-berdasarkan-key-performance-indicator

Pondok Pesantren Pabuaran

Pondok Pesantren Pabuaran

Senin, 01 Juli 2013

Tips Sehat Berpuasa dengan Asupan Gizi yang Tidak Mudah Dicerna

Pondok Pesantren Pabuaran - dr. Edy Rizal Wahyudi, SpPD, KGer, Finasim dari Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, memberikan tips berpuasa agar lancar. Tips puasa sehat ini berlaku secara umum untuk seorang berusia lanjut dan juga semua kalangan.

Tips Sehat Berpuasa dengan Asupan Gizi yang Tidak Mudah Dicerna - Pondok Pesantren Pabuaran
Tips Sehat Berpuasa dengan Asupan Gizi yang Tidak Mudah Dicerna - Pondok Pesantren Pabuaran


Tips Sehat Berpuasa dengan Asupan Gizi yang Tidak Mudah Dicerna

1. Saat Sahur usahakan untuk membatasi asupan teh dan kopi. Pasalnya, dua asupan tersebut membuat metabolisme berjalan cepat. Sehingga cepat mendatangkan rasa haus meski tak terdehidrasi.

2. Sangat dianjurkan mengonsumsi makanan yang lambat dicerna dan memiliki serat yang tinggi. Contohnya gandum, padi-padian, kacang-kacangan, biji-bijian, nasi merah.

3. Saat ta'jil/pendahuluan berbuka puasa dianjurkan untuk mengonsumsi kurma karena mengandung gula serat, karbohidrat, kalium dan magnesium. Dengan kurma, kebutuhan nutrisi tubuh yang hilang selama puasa perlahan dipenuhi.

4. Mengonsumsi pisang saat ifthor/berbuka sangat baik bagi tubuh Anda, sebab pisang merupakan sumber kalium, magnesium dan karbohidrat.

5. Batasi makanan yang digoreng saat berbuka karena dapat meningkatkan sel-sel lemak dalam tubuh. Hal ini karena seorang yang sudah di usia lanjut cenderung memiliki keluhan penyakit yang disebabkan lemak, seperti penyakit jantung koroner dan hipertensi.

6. Batasi makanan yang lebih cepat dicerna, seperti gula. Hal ini bisa cepat mendatangkan rasa haus ditengah Anda menjalani puasa nantinya.

7. Konsumsi air atau jus buah antara berbuka puasa dan sebelum tidur. Hal ini bertujuan untuk menyediakan kebutuhan cairan dalam tubuh untuk Anda lancar beraktivitas esok harinya.

8. Hindari terlalu banyak minum Es, karena memudahkan Anda kenyang. Dimana asupan makanan gizi yang lengkap akan menurun karena tak bisa masuk dalam tubuh.

Selamat menunaikan ibadah puasa dan ibadah lainnya di bulan Suci Ramadhan 1437 H/ 2016 M. Semoga informasi ini bermanfaat dan Anda diberi kelancaran, kesehatan dan ke-khusyu-an serta ikhlas menjalankannya. Bertambah iman, ilmu dan amal yang diridhai Allah SWT. [Pondok Pesantren Pabuaran]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/tips-sehat-berpuasa-dengan-asupan-gizi-yang-tidak-mudah-dicerna.html

Senin, 09 April 2012

Muslimat Gelar Rakernas di Samarinda

Jakarta, Pondok Pesantren Pabuaran. Pucuk Pimpinan Muslimat Nahdlatul Ulama menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Samarinda, 5-7 Februari 2015. Rakernas dibuka langsung oleh Ketua Umum Muslimat Khofifah Indarparawansa yang juga Menteri Sosial.

Sekjen Muslimat, Aniroh Slamet Efendi Yusuf mengatakan, Muslimat NU mengamanatkan Rakernas dilaksanakan sekurang-kurangnya satu kali diantara dua kongres atas undangan Pimpinan Pusat.

Muslimat Gelar Rakernas di Samarinda (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat Gelar Rakernas di Samarinda (Sumber Gambar : Nu Online)


Muslimat Gelar Rakernas di Samarinda

"Maka dalam rangka melaksanakan amanat Kongres XVI tahun 2011 di Lampung, Pimpinan Pusat Muslimat NU telah menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta pada tanggal 27 Mei - 1 Juni 2014," kata Aniroh Slamet Efendi Yusuf, di Jakarta, Kamis (5/2).

Mengingat kebutuhan penguatan yang lebih besar pada tiga layanan dasar Muslimat NU tersebut, maka sebelum Kongres tahun 2016, PP Muslimat NU menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional Bidang Pendidikan dan mengagendakan Rapat Kerja Nasional Bidang Kesehatan dan Bidang Ekonomi .

Pondok Pesantren Pabuaran

Rakernas Pendidikan kali ini diselenggarakan tanggal 5 -7 Februari 2015 di Samarinda, Kalimantan Timur, dengan mengambil tema "Menguatkan Jaringan Pendidikan yang makin Berkualitas, Dan Terjangkau Untuk Menyiapkan SDM Yang Unggul, Kompetitif Dan Ber-Akhlak Mulia".

Pondok Pesantren Pabuaran

Muslimat NU kini membidangi beberapa layanan. Antara lain bidang kesehatan yang membidangi Yayasan Kesejahteraan Muslimat (YKM) NU. Kini Muslimat memilik 108 RB/RS/Klinik, 10 asrama Putri /Pesantren Putri, 104 Panti Asuhan, 10 Panti Jompo.

Selain itu, bidang pendidikan yang mempunyai layanan Yayasan Pendidikan Muslimat (YPM) NU. Kini bidang ini memiliki 9.986 TK/RA, 1571 PKBM, 14.350 TPQ, 10 Balai Latihan Ketrampilan (BLK), serta 4.622 PAUD.

Sedangkan Yayasan Haji Muslimat (YHM) NU, memiliki 146 Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Dan, Yayasan Himpunan Daiyah dan Majelis Taklim Muslimat (HIDMAT) NU, sebanyak 59.650 MT.

Di bidang Koperasi, Muslimat memiliki 1 Induk Koperasi (INKOPAN), 9 Koperasi Sekunder, 144 Koperasi Primer, dan 355 Tempat Pelayanan Koperasi (TPK). (Red: Anam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/57438/muslimat-gelar-rakernas-di-samarinda

Pondok Pesantren Pabuaran

Minggu, 10 April 2011

Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia

Bandung, Pondok Pesantren Pabuaran. Dari data yang diperoleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), angka kasus pelanggaran toleransi di Indonesia mengalami lonjakan dan penurunan. Tahun 2010 ada 34 peristiwa, tapi 2011 melonjak lima kali lipat hingga 174 kasus. Lalu tahun 2012 mengalami penurunan menjadi 117 kasus, sementara tahun 2013 terdapat 118 kasus, dan 116 kasus di tahun 2014.

Fenomena ini menunjukkan persoalan toleransi beragama bukanlah persoalan yang timbul tahap demi tahap, tapi persoalan yang awalnya adem, damai, tenang, tiba-tiba terbakar begitu saja. Ada hal yang perlu diperhatikan untuk melihat lonjakan drastis tentang perubahan apa yang terjadi di negeri ini sehingga menimbulkan permasalahan toleransi beragama yang terjadi hingga saat ini.

Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)


Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia

Demikian disampaikan Satrio Wiratanu, Divisi Hak Sipil dan Politik Kontras, sebagai pemateri dalam acara Diskusi Publik bertajuk "Masalah dan Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia" yang berlangsung di aula fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jumat siang (13/3).

Pondok Pesantren Pabuaran

Satrio menjelaskan, pelanggaran toleransi beragama pada tahun 2011 motifnya cenderung berbentuk kekerasan, penganiayaan, pengrusakan harta benda, penutupan hingga pembekaran tempat ibadah, bahkan sampai pembunuhan terhadap kelompok-kelompok minoritas.

"Setelah tahun 2011, pelanggaran lebih cenderung pada bentuk ucapan atau seruan penyesatan yang secara akademis dinamakan hate speech (syiar kebencian). Misalnya memvonis kafir atau sesat yang disertai dengan pernyataan (fatwa) layak dibunuh atau halal darahnya," sambungnya dalam acara yang bekerja sama dengan PC PMII Kota Bandung itu.

Dalam konteks internasional, mengutip data yang diperoleh Kontras, Satrio mengungkapkan hasil penelitian tentang kadar konflik keagamaan di suatu Negara. Dari 198 negara pada tahun 2012, Indonesia menempati posisi kesepuluh dalam hal konflik keagamaan. Sedangkan Pakistan berada di posisi pertama, disusul Afghanistan dan India di tempat kedua dan ketiga. Sementara tahun 2013, Indonesia turun pada posisi ketiga belas.

Pondok Pesantren Pabuaran

Sedangkan dalam hal pembatasan praktik keagamaan yang dilakukan Pemerintah, tahun 2012 Indonesia tercatat posisi kelima, di bawah Mesir, China, Iran dan Saudi Arabia. Namun Indonesia naik di peringkat kedua pada tahun 2013, dan China menduduki posisi pertama.

Tapi saya ragu, misalkan (posisi) kita akan turun pada tahun-tahun setelahnya. Karena melihat pada tahun 2014, banyak bermunculan peraturan-peraturan syariah yang sifatnya banyak membatasi praktik-praktik atau hak-hak keagamaan. Dalam posisi kita, bagaimana cara memperbaikinya? ujarnya di hadapan puluhan mahasiswa yang memenuhi diskusi tersebut.

Usai pemateri menyampaikan paparannya, peserta diskusi publik yang didominasi kader-kader PMII Kota Bandung itu menanyakan berbagai hal terkait fenomena inteloransi beragama, cara menangani konflik keagaman, maupun soal pengalaman Kontras dalam mengadvokasi kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi. (Muhammad Zidni Nafi/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/58190/kontras-pesimis-masa-depan-toleransi-beragama-di-indonesia

Pondok Pesantren Pabuaran

Selasa, 18 Mei 2010

Pada Mulanya, Cikal Bakal Pendiri NU, Muhammadiyah dan Masyumi, Satu Sanad Ilmu

Pondok Pesantren Pabuaran - Tulisan di bawah ini adalah rangkuman sejarah sanad intelektual atas pendiri NU, Muhammadiyah, MIAI dan Masyumi yang bersambung sanad ilmunya kepada Syaikhana Kholil Bangkalan. Sudah banyak ditulis oleh sejarawan NU. Ada yang mengategorikan kronologi sejarah di bawah ini adalah sejarah kuno ormas-ormas Islam di Indonesia sebelum KH Ahmad Dahlan wafat.

1. Awal 1900-an 4 murid tamatkan pelajarannya pada Kyai Cholil di Bangkalan Madura. Menyeberangi selat: 2 ke Jombang, 2 ke Semarang.

2. Dua murid yang ke Jombang, 1 dibekali cincin (kakek Cak Nun), 1 lagi KH. Romli (ayah KH. Mustain Romli) dibekali pisang mas.

Pada Mulanya, Cikal Bakal Pendiri NU, Muhammadiyah dan Masyumi, Satu Sanad Ilmu - Pondok Pesantren Pabuaran
Pada Mulanya, Cikal Bakal Pendiri NU, Muhammadiyah dan Masyumi, Satu Sanad Ilmu - Pondok Pesantren Pabuaran


Pada Mulanya, Cikal Bakal Pendiri NU, Muhammadiyah dan Masyumi, Satu Sanad Ilmu

3. Dua murid yang ke Semarang: Hasyim Asy’ari dan Muhammad Darwis, masing-masing diberi kitab untuk dingajikan pada Kyai Soleh Darat.

4. Kyai Soleh Darat adalah ulama terkemuka, ahli nahwu, ahli tafsir, ahli falak. Keluarga besar RA. Kartini mengaji pada beliau. Bahkan atas masukan Kartini-lah, Kyai Soleh Darat menerjemahkan al-Quran ke dalam bahasa Jawa agar bisa dipahami.

Pondok Pesantren Pabuaran

5. Pada Kyai Soleh Darat, Hasyim dan Darwis (yang kemudian berganti nama jadi Ahmad Dahlan tabarruk dengan gurunya Syekh Zaini bin Dahlan, Mufti Syafiiyyah di Tanah Haram) belajar tekun dan rajin, lalu ‘diusir’. Kedua sahabat itu; Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan diperintahkan Kyai Soleh Darat segera ke Makkah untuk melanjutkan belajar.

Pondok Pesantren Pabuaran

6. Setiba di Makkah, keduanya yang cerdas menjadi murid kesayangan Imam Masjidil Haram, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Tampaklah kecenderungan Hasyim yang sangat mencintai hadist, sementara Ahmad Dahlan tertarik bahasan pemikiran dan gerakan Islam.

7. Tentu riwayat jalan berilmu mereka panjang. Saya akan melompat pada kepulangan mereka ke tanah air dan gerakan yang dilakukan.

8. Hasyim Asy’ari pulang ke Jombang. Di sana kakek Cak Nun menantinya penuh rindu. Kakek Cak Nun yang ‘sakti’ inilah yang mampu menaklukkan kawasan rampok dan durjana bernama Tebuireng untuk didirikan pesantren.

9. Hasyim Asy’ari, dia mohon agar berkenan mulai mengajar di situ. Beliau membuka pengajian ‘Shahih al-Bukhari’ di sana.

10. Pahamlah kita, satu-satunya orang yang bisa bujuk Gus Dur keluar istana saat impeachment dulu ya Cak Nun. Ini soal nasab.

11. Saat disuruh mundur orang lain, Gus Dur biasanya jawab: “saya kok disuruh mundur, maju aja susah, harus dituntun!”. Tapi Cak Nun tidak menyuruhnya mundur. Kata beliau, “Gus, koen wis wayahe munggah pangkat!” Sudah saatnya naik jabatan!”.?.

12. KH. Romli Tamim yang juga di Jombang mendirikan pesantren di Rejoso, kelak jadi pusat Thariqoh Al Mu’tabarah yang disegani.

13. Kembali ke Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, catat ini: beliaulah orang yang menjadikan pengajian hadist penting dan terhormat. Sebelum Hadratusy Syaikh memulai ponpes Tebuireng-nya dengan kajian Shahih al-Bukhari, umumnya ponpes cuma ajarkan tarekat.

14. Tebuireng makin maju, santri berdatangan dari seluruh Nusantara. Hubungan baik terjalin dengan Kyai Hasbullah, Tambakberas. Putra Kyai Hasbullah, Abdul Wahab kelak jadi pendiri organisasi Islam terbesar yang dinisbatkannya pada Hadratusy Syaikh, yakni NU. Konon selama KH. Abdul Wahab Hasbullah dalam kandungan, ayahnya mengkhatamkan al-Qur’an 100 kali diperdengarkan pada si janin.

15. Tebuireng juga berhubungan baik dengan KH. Bisyri Syamsuri Denanyar. Abdul Wahid Hasyim menikahi putri beliau (ibu Gus Dur).

16. KH. Bisyri Syamsuri juga beriparan dengan KH. Abdul Wahab Hasbullah. Inilah segitiga pilar NU: Tambakberas – Tebuireng – Denanyar.

17. Satu waktu ada santri Hadratusy Syaikh melapor, dari Yogyakarta ada gerakan yang ingin memurnikan agama dan aktif beramal usaha. “O kuwi Mas Dahlan”, ujar Hadratusy Syaikh “Ayo padha disokong”!”. Itu Mas Dahlan, ayo kita dukung sepenuhnya.

18. KH. Ahmad Dahlan sang putra penghulu keraton itu amat bersyukur. Beliau kirimkan hadiah. Hubungan kedua keluarga makin akrab.

19. Sampai generasi ke-4, putra-putri Tebuireng yang kuliah di Yogyakarta selalu kos di keluarga KH. Ahmad Dahlan Kauman.

20. Sebagai bentuk dukungan pada perjuangan KH. Ahmad Dahlan, Hadratusy Syaikh menulis kitab ‘Munkarat Maulid Nabi wa Bida’uha’, bagi Hadratusy Syaikh, itu banyak bid’ah dan mafsadatnya.

21. Ketika akhirnya gesekan makin sering terjadi antara anggota Muhammadiyah vs kalangan pesantren, Hadratusy Syaikh turun tangan. “Kita & Muhammadiyah sama. Kita Taqlid Qauli (mengambil pendapat ‘ulama Salaf’), mereka Taqlid Manhaji (mengambil metode)”.

22. Tetapi dipelopori KH. Abdul Wahab Hasbullah, para murid menghendaki kalangan pesantren pun terorganisasi baik. NU berdiri. Direstui Hadratusy Syaikh, Abdul Wahab Hasbullah dan rekan berangkat ke Makkah menghadap raja Saudi sampaikan aspirasi Madzhab. Kepulangan mereka disambut Hadratusy Syaikh dengan syukur sekaligus meminta untuk terus bekerjasama dengan Muhammadiyah.

23. Atas prakarsa Hadratusy Syaikh, KH. Mas Mansur, Muhammadiyah, dan tokoh lain, terbentuklah Majlisul Islam A’la Indunisiya (MIAI).

24. Mengapa kisah Khalil dari Bangkalan dan murid-muridnya penting? Agar terjaga pikiran, lisan dan perkataan kita yang mengaku pewaris dakwah hari ini.

25. Yang tidak memahami sejarah, nasab keluarga dan sanad ilmu akan kesulitan memahami dan membawakan dakwah pada kalangan tertentu. [Pondok Pesantren Pabuaran]

Keterangan: Ditulis oleh Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Fahmi Salim.

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/pada-mulanya-cikal-bakal-pendiri-nu-muhammadiyah-dan-masyumi-satu-sanad-ilmu.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Pabuaran sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Pabuaran. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Pabuaran dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock