Tampilkan postingan dengan label Toleransi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Toleransi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juni 2016

Dawah Nanggap Wayang Bheling

Jakarta, Pondok Pesantren Pabuaran. Islam di Indonesia adalah Islam yang menghargai budaya lokal, yang mampu menyesuaikan budaya Jawa dengan ajaran-ajaran Islam, seperti tahlilan, wayang, dll. Proses akulturasi yang halus ini menyebabkan Islam dapat menyatu dengan kebudayaan lokal dengan berhasil.

Jumlah warga NU yang besar merupakan bukti bahwa cara-cara penyebaran Islam dengan menyesuaikan diri dengan budaya lokal membuktikan hal ini. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) yang bergerak dalam bidang dakwah NU sampai saat ini tetap menyesuaikan strategi dakwahnya dengan budaya-budaya lokal.

Tidak lama lagi LDNU akan menggelar gebyar dawah wayang yang akan digelar di Tugu Api Pancasila Taman Mini Indonesia Indah pada tanggal 4 Juli 2003 pukul 08.00 - selesai. Ini merupakan salah satu penyesuaian budaya local dalam dakwah selain kegiatan dakwah berupa istighoatsah yang rutin dilakukan setiap hari Rabu akhir bulan.

Gawe besar LDNU ini akan menghadirkan dalang Ki.Enthus Susmono warga NU dari Tegal yang sering bermain di istana sejak zaman Gus Dur . Ini adalah gawe besar untuk masyarakat Islam ahlussunah waljamaah yang sejatinya merindukan perdamaian dimuka bumi ini, juga mempererat tali persaudaraan sesama warga bangsa tentu saja lewat seni wayang yang penuh Pasemon, kritik untuk menggugah kesadaran warga bangsa.

Dawah Nanggap Wayang Bheling (Sumber Gambar : Nu Online)
Dawah Nanggap Wayang Bheling (Sumber Gambar : Nu Online)


Dawah Nanggap Wayang Bheling

Dakwah ini sengaja dirancang melalui pakem seni budaya pewayangan yang merupakan salah satu kekayaan kita semua, Insyaallah masyarakat yang lain akan dapat menikmati acara ini melalu siaran langsung di Indosiar. Gawe yang dipimpin langsung Ketua PP.LDNU Drs.KH .A.N.Nuril Huda dibantu oleh Drs.H.Abd.Rosyid Fanani dan Drs.Syamsuddin Bs serta tim kerja yang lain. Acara ini akan menampilkan bintang tamu, Didi Kempot, Kirun, Marwoto dll. Tema yang diangkat dalam lakon berjudul Barata Yudho Wurung. (mkf)

Pondok Pesantren Pabuaran

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/204/da039wah-nanggap-wayang-bheling

Pondok Pesantren Pabuaran

Pondok Pesantren Pabuaran

Minggu, 12 Juli 2015

Ujian MTs/SMP Maarif Jateng Diikuti 57.500 Siswa

Pati, Pondok Pesantren Pabuaran. Ujian Madrasah (UM) untuk tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) diselenggarakan 6-11 April 2015. Di Jawa Tengah, UM diikuti oleh ratusan madrasah yang berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Maarif NU.

Ketua Panitia Ujian Madrasah Pimpinan W LP Maarif NU Jateng Muh Junaidi mengatakan, peserta UM tingkat MTs/SMP tahun ini mencapai 57.500 siswa. Jumlah tersebut berasal dari 597 MTs dan 79 SMP yang tersebar di seluruh cabang LP Maarif NU Kabupaten/Kota Se-Jawa Tengah.

Ujian MTs/SMP Maarif Jateng Diikuti 57.500 Siswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ujian MTs/SMP Maarif Jateng Diikuti 57.500 Siswa (Sumber Gambar : Nu Online)


Ujian MTs/SMP Maarif Jateng Diikuti 57.500 Siswa

Lebih lanjut Junaidi mengungkapkan bahwa untuk melihat langsung pelaksanaan UM di daerah-daerah, PW LP Maarif NU Jateng melaksanakan pengawasan ke beberapa madrasah/sekolah. Beberapa daerah yang dijadikan sampel pengawasan, antara lain Kabupaten Pati, Kabupaten Magelang, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Blora, Kabupaten Grobogan, dan Kota Semarang.

Pondok Pesantren Pabuaran

Tujuan monitoring ini untuk mengetahui apakah pelaksanaan UM ini sudah sesuai ketentuan atau belum. Merespon aspirasi cabang terkait pelaksanaan ujian. Memonitor kendala-kendala yang muncul seperti validitas soal, kualitas cetak naskah, dan lain sebagainya, kata Junaidi yang juga menjadi Kepala MTsN 1 Semarang ini.

Jamal, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di MTs Perguruan Islam Munomen (PIM) Gembong Pati saat menerima kunjungan PW LP Maarif NU Jateng mengatakan, secara garis besar soal-soal UM dari wilayah cukup baik. Sudah sesuai Standar Kelulusan (SKL), bahasa yang digunakan juga bagus. Hanya memang masih ada beberapa kesalahan teknis. Tetapi bisa kami atasi, jelasnya. (Muslihudin el Hasanudin/Mahbib)

Pondok Pesantren Pabuaran

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/58751/ujian-mtssmp-marsquoarif-jateng-diikuti-57500-siswa

Pondok Pesantren Pabuaran

Rabu, 19 Maret 2014

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima

Jakarta, Pondok Pesantren Pabuaran. Politik dan ekonomi yang diangkat sebagai panglima bagi masyarakat Indonesia, terbukti gagal memberikan kemaslahatan bagi mereka. Kendati demikian, mereka tidak berani mengangkat budaya sebagai panglima.

Demikian dikatakan Wakil Rais Am PBNU KH A Musthofa Bisri yang lazim disapa Gus Mus dalam pidato budaya pada malam Festival Budaya Pesantren di Balai Kartini Kavling 37, Kuningan Timur, Jakarta Selatan, Sabtu (20/4) malam.

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima (Sumber Gambar : Nu Online)


Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima

Bagi Gus Mus, budaya kesederhanaan, kebiasaan gotong royong, dan tingginya rasa persaudaraan sesama manusia, sanggup menyehatkan kembali mereka dari kemerosotan susila yang sangat meresahkan kini. Tetapi mereka mengabaikan aspek budaya.

Menurut Gus Mus, mereka masih berharap pada politik dan ekonomi. Padahal, politik sebagai panglima seperti di era Bung Karno telah mengantarkan masyarakat pada suatu keadaan yang mengkhawatirkan. Mereka terkotak-kotak dalam aneka warna partai. Antartetangga saling membunuh hanya karena perbedaan warna bendera partai.

Pondok Pesantren Pabuaran

Kenyataan itu dikritik di zaman Suharto. Kalau politik tidak membuat perut kenyang, kenapa politik dijadikan panglima? Lalu Suharto menjadikan ekonomi sebagai panglima, kata Gus Mus di hadapan sedikitnya 1500 kader Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor).

Ekonomi, lanjut Gus Mus, bukanlah panglima yang baik. Orde baru yang menilai pertumbuhan ekonomi sebagai capaian-capaian pembangunan, membuat erosi mental dan etika masyarakat. Perebutan sumber-sumber perekonomian, menghilangkan kesederhanaan mereka. Celakanya, materi membuat mereka sangat mencintai dunia.

Pondok Pesantren Pabuaran

Kesederhanaan sebagai harta termahal masyarakat Indonesia, didesak panglima ke pinggir. Harga diri manusia Indonesia diukur dari materi semata. Kecurigaan satu sama lain, sikap individualitas, dan kesenjangan kelas sosial yang menjurang menguat, tegas Gus Mus dalam festival yang menjadi awal rangkaian harlah ke-79 GP Ansor.

Sementara di era reformasi, mereka kembali menjadikan politik sebagai panglima. Panglima sekarang ini lebih kejam dari panglima di era Bung Karno. Karena, panglima politik era ini, memimpin setelah mereka melewati kejamnya 32 tahun ekonomi bercokol. Dengan demikian, mereka menstandarkan kemanusiaannya pada acuan materi dan kekuasaan sekaligus, tutup Gus Mus.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/43967/gus-mus-jadikan-budaya-sebagai-panglima

Pondok Pesantren Pabuaran

Jumat, 01 Februari 2013

Naudzubillah, Gambar Hoax Boom Aleppo!

Pondok Pesantren Pabuaran - "'FatwaAhad': Taqlid yg paling buta ialah membebek pertikaian orang di kawasan lain hingga ikut menyebar fitnah2 mereka di negeri sendiri."

Tweet akun Gus Mus (@gusmusgusmu) sungguh sindiran keras buat mereka yang ingin mengimpor kerusuhan dan perang saudara di Timur Tengah ke Indonesia. Tragedi Aleppo Turki salah satunya.

Untuk memperkeruh suasana, bukan hanya berita yang ditulis. Namun foto juga diedit untuk pembenaran yang entah berpihak kepada siapa.

Naudzubillah, Gambar Hoax Boom Aleppo! - Pondok Pesantren Pabuaran
Naudzubillah, Gambar Hoax Boom Aleppo! - Pondok Pesantren Pabuaran


Naudzubillah, Gambar Hoax Boom Aleppo!

Perhatikan dua gambar di atas. Itu ada yang asli dan juga palsu, alias hoax. Gambar bom sama, tapi tambahan pesawat di atasnya adalah tambahan. Shoot gambar lebih di sebelah kanan lebih dekat daripada yang sebelah kiri.

Pondok Pesantren Pabuaran

Gambar ini dipakai tahun 2014 oleh http://www.dostor.org/662491, dengan judul:

سلسلة غارات إسرائيلية وقصف مدفعي على قطاع غزة

Pondok Pesantren Pabuaran

Terjamah: Serangkaian Serangan Israel dan Pemboman Artileri di Jalur Gaza

Anda juga bisa cek foto aslinya di http://bit.ly/1QVKs75, http://bit.ly/1rH23uS dan http://bit.ly/1WThqfs.

Berita sebenarnya: Serangan Israel di Jalur Gaza. Tapi fitnah beritanya: Rezim Asad memboom Aleppo. Anda bisa cek gambar Hoax ini di Fanpage Aceh Chanel. Hati-hati dengan Fanpage ini. Mengajak rusuh pembacanya terus. Ini linknya jika belum dihapus: http://bit.ly/24DWKhu

Sekarang fitnah banyak bertebaran tinggal kita memilah. Jika ingin cek gambar asli sebuah foto, coba pakai laptop atau pc buka pakai browser chrome, klik kanan, pilih "telusuri google untuk gambar". Nanti akan ketemu hasilnya. [Pondok Pesantren Pabuaran/ab] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/naudzubillah-gambar-hoax-boom-aleppo.html

Senin, 21 Mei 2012

Filosofi Ketupat dan Lepet Warisan Walisanga

Pondok Pesantren Pabuaran - Adalah Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa tentang filosofi ketupat. Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali bakda, yaitu bakda lebaran dan bakda kupatan, dimulai seminggu sesudah lebaran.

Arti kata ketupat Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat merupakan kependekan dari ngaku lepat dan laku papat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Laku papat artinya empat tindakan.

Ngaku lepat (mengaku salah) Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa. Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

Filosofi Ketupat dan Lepet Warisan Walisanga - Pondok Pesantren Pabuaran
Filosofi Ketupat dan Lepet Warisan Walisanga - Pondok Pesantren Pabuaran


Filosofi Ketupat dan Lepet Warisan Walisanga

Laku papat Laku empat ada dalam tradisi kupatan, yakni: 1). Lebaran (sudah usai, menandakan berakhirnya waktu puasa), 2). Luberan (meluber atau melimpah, ajakan bersedekah untuk kaum miskin dalam kewajiban pengeluaran zakat fitrah), 3). Leburan (sudah habis dan lebur. Dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain, 4). Laburan (berasal dari kata labur, dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya).

Pondok Pesantren Pabuaran

Asal kata janur Janur, diambil dari bahasa Arab "Ja'a Nur" (telah datang cahaya). Adapaun bentuk fisik kupat yang segi empat adalah ibarat hati manusia. Saat orang sudah mengakui kesalahannya, maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki. Kenapa? Karena hatinya sudah dibungkus cahaya (Ja'a Nur).

Asal kata lepet

Pondok Pesantren Pabuaran

Lepet = silep kang rapet. Mari kita kubur/tutup yang rapat. Jadi setelah mengaku lepat, meminta maaf, menutup kesalahan yang sudah dimaafkan, jangan diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.

Dari sini, kita semakin mengetahui betapa besar peran para walisanga dalam memperkenalkan agama Islam kepada masyarakat awam di Jawa waktu itu yang tidak paham bahasa Arab. Inilah cara dakwah yang mengajak, tanpa harus menginjak pemahaman atau kebodohan masyarakat. [Pondok Pesantren Pabuaran]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/filosofi-ketupat-dan-lepet-warisan-walisanga.html

Sabtu, 28 April 2012

Mengintip Bahasa Binatang Grup Syuhada Indonesia

Pondok Pesantren Pabuaran - Namanya keren, Forum Syuhada Indonesia (FSI). Nama grup WhatsApp nya juga mentereng, Syuhada Indonesia. Jumlah anggota grupnya hampir full 256 nomor. Rata-rata mereka adalah orang yang berharap bisa mati syahid dan mati husnul khotimah. Bahkan ada yang menyiapkan kain kafan sejak 2010 untuk bersiap jadi orang yang mati syahid. Varokah.

Namun, grup yang katanya bermarkas di Jl. Menteng Raya No. 58 Jakarta Pusat 10340 tersebut, percakapan demi percakapannya penuh dengan bahasa kebencian serta caci maki kepada pemerintah dan pihak-pihak yang berbeda pendapat atau bersebarangan dengan ide-ide mereka.

Mengintip Bahasa Binatang Grup Syuhada Indonesia - Pondok Pesantren Pabuaran
Mengintip Bahasa Binatang Grup Syuhada Indonesia - Pondok Pesantren Pabuaran


Mengintip Bahasa Binatang Grup Syuhada Indonesia

Tidak gampang masuk di grup yang beberapa waktu lalu telah mengirimkan 350 orang ke Libya untuk training Brigade Syuhada FSI ini, dan siap pulang ke Indonesia setelah dilatih selama 120 hari. Entah hasilnya apa untuk kemajuan Indonesia, wallahu a'lam. Ini bukti pengakuan mereka di grup.

FSI kirimkan 350 orang kut training Brigade Syuhada Pondok Pesantren Pabuaran mendapatkan ratusan screenshoot grup FSI dari seorang pembaca yang jadi membernya. Sungguh menggila, di grup yang katanya mendamba husnul khotimah tersebut, kata-kata tidak pantas mudah muncul di antara para anggota. Intinya, mereka itu macam sekumpulan korek api, berkepala, tidak punya otak, tapi digesek sedikit, bisa menyala. Keren kan?

Dalam melihat siapa pun musuhnya, mereka mudah disulut emosi, teriak takbir, lalu siap maju perang dan berharap mati syahid. Ironis bukan? Mereka inilah calon-calon martir jika Indonesia dicabik-cabik oleh perang antar saudara.

Pasca aksi 212, bahasan yang mereka rembug dalam grup selalu berharap adanya revolusi. Hanya karena channel Metro TV dianggap bela kafir, mereka siap revolusi dan maju terdepan melawan security kafir. Ini pada ngapain yah? Bego-bego amat jadi mujahid ambisius.

Para member di grup pendampa syahid itu juga tidak sungkan-sungkan melontarkan tuduhan PKI, kafir, munafikun, kepada Presiden dan siapapun yang dianggap menghalangi langkahnya. Sumbu pendek keterlaluan memang grup itu. Lihatlah bukti percakapan mereka di bawah ini:

Polisi ke laut aja katanya. Hahaha! Puluhan foto yang diterima tim redaksi Pondok Pesantren Pabuaran juga ada yang lebih menghina daripada komentar di atas. Jokowi yang terkesan diam atas pelecehan Al-Quran oleh Ahok, menurut mereka, dianggap PKI dan buta hati. Bahkan dijadikan bualan "Saya lupa kalau Jokowi mimpin, kirain dah mati," tulis salah satu membernya. Ini penampakan screen percakapan tersebut.

Jokowi dianggap mati Bagaimana dengan TNI? Wah, edyan lagi. Tentara dianggap kaum munafik fik fik, kata salah satu member. Padahal, tidak pernah menganggu FSI bukan? Grup Syuhada bawaannya memang ingin ada perang dan revolusi si si terus rus rus.

Masih mennding Syuhada katanya, daripa mereka. Haha Setelah Jokowi dan TNI dijadikan bahan ekspresi harapan mati syahid perang, Ahok lebih sadis lagi. Di grup tersebut, Ahok itu punya banyak sebutan yang hanya satu tujuan: menghina. Ahok disebutnya sebagai binatang juga loh, "jadi yang namanya binatang kan tidak punya malu," ujar salah satu anggota grup sebagaimana Anda bisa tonton gamblang di foto cepretan ini:

Ahok Binatang. Takbirr! Ironisnya, para anggota grup ketika melihat percakapan yang penuh kebencian, caci-maki dan bahasa binatang tersebut tidak ada yang protes. Justru disambut dengan ketikan "Allahu Akbar". Jika ada yang protes, kata sumber inforrmasi ini, langsung dikick oleh admin grup. Mereka memang tipe martir, bukan yang suka beda pendapat dalam diskusi.

Soal Eva Sundari pun, ketika ada anggota memposting beritanya tentang Habib Rizieq yang harusnya ke luar negeri saja, kena semprotan manis khas mujahid syuhada (yang kemarin habisin roti di Monas itu). Politisi PDIP itu disebut sebagai Dajjal Betina yang mulutnya layak disumpal tanah kuburan. Naudzubillah min dzalik. Ini bahasa planet pendamba syahid dan husnul khotimah kah? Ya Allah.

Eva Sundari disebut Dajjal Intinya, grup tidak jelas arahnya tersebut hanya ingin agar Ahok tidak ikut Pilkada. Jika dia jadi gubernur lagi, lalu lompat jadi presiden, mereka siap mati demi perang melawan kafir Ahok. Ini jelas kelompok penuh hasud, yang buta politik, tapi semangatnya luar biasa ingin mati.

Sekian dulu yah, masih banyak hal yang harus diurus daripada baca puluhan foto cakap-cakap grup Syuhada itu. Wallahu a'lam. Semoga dijauhkan dari karakter syuhada tanpa adab dan strategi cakap tersebut. Golongan yang lemah iman dan penuh kesombongan paling selamat dunia akhirat. Wal iyadzu billah. [Pondok Pesantren Pabuaran]

Siap mati perangi Ahok nih.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/mengintip-bahasa-binatang-grup-syuhada-indonesia.html

Rabu, 20 April 2011

PCNU Sumedang Bantu Korban Banjir Subang

Sumedang, Pondok Pesantren Pabuaran. Wilayah utara Jawa Barat, diantaranya Kabupaten Subang, ditimpa bencana banjir. Kepedulian untuk meringankan beban korban, muncul dari PCNU Kabupaten Sumedang.

Pada Senin, 27 Januari, Ketua PCNU, Ketua PC JQHNU, dan Sekretaris PC Jamiyyah Thoriqoh Almutabaroh Kabupaten Sumedang mewakili warga Nahdliyyin membantu menggalang dana untuk para korban banjir. Bantuan diserahkan langsung oleh ketua PCNU Sumedang PCNU Subang.

PCNU Sumedang Bantu Korban Banjir Subang (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Sumedang Bantu Korban Banjir Subang (Sumber Gambar : Nu Online)


PCNU Sumedang Bantu Korban Banjir Subang

PCNU Subang kemudian diamanati untuk menyerahkan langsung bantuan tersebut ke para korban banjir. Bantuan yang diberikan berupa uang, pakaian layak pakai, makanan mie instan dan barang-barang yang lainnya.

Pondok Pesantren Pabuaran

Ketua PCNU Sumedang, H. Sadulloh mengatakan bahwa kegiatan baksos ini merupakan baksos yang kesekian kalinya dilaksanakan.

Dulu PCNU Kabupaten Sumedang pernah juga membantu para korban gempa bumi di dareh Garut. Tidak menutup kemungkinan nanti akan ada baksos-baksos lanjutan, ungkapnya. (Ayi Abdul Kohar/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Pabuaran

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/49803/pcnu-sumedang-bantu-korban-banjir-subang

Pondok Pesantren Pabuaran

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Pabuaran sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Pabuaran. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Pabuaran dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock